About Me

mas'ud darsani laboy jaya bangkinang kampar riau sani

globe


ShoutMix chat widget
welcome to my blog
Senin, 17 Mei 2010

Terrorisme Dan Terror is Me: Sebuah Refleksi Budaya

Dalam beberapa hari terakhir, media massa kita santer memberitakan kasus penyergapan sarang terroris yang dilakukan oleh Detasemen Khusus 88. Ini adalah kali yang kesekian Densus 88 berhasil membekuk para terroris yang sudah banyak meresahkan masyarakat di Republik ini. Lantas pertanyaannya, bisakah terorris itu ditumpas ke akar-akarnya?

Rasa-rasanya sangat sulit untuk menumpas terroris ini karena terroris, pada dasarnya, tidak terbentuk begitu saja. Ia muncul sebagai akibat dari adanya terror-terror yang melingkupi dirinya, yang kemudian memaksanya untuk menjadi terroris sebagai bentuk balas dendam atas terror terhadap diri maupun kelompoknya.


Jika kita perhatikan, sebenarnya banyak terror yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kasus pembebasan Gayus dan mengambangnya sekandal Bank Century, misalnya, bisa menjadi terror bagi masyarakat kecil yang bermasalah dengan hukum. Masyarakat akan menilai bahwa hukum hanya memihak kepada kalangan atas saja, sementara bagi mereka, kesalahan kecilpun bisa dijerat dengan pasal-pasal berlapis yang kemudian dapat menjebloskannya kedalam penjara selama belasan tahun.

Dalam dunia politik, kebijakan-kebijakan pemerintah yang kurang memihak kepada kepentingan masyarakat dan tidak mengedepankan kesejahteraan rakyat, juga akan menjadi terror yang cukup membuat gelisah hati rakyat kecil. Kepentingan mereka yang terabaikan, kesejahteraan mereka yang terlantarkan, harapan mereka yang tergadaikan, dapat membuat mereka selalu dicekam rasa ketakukan dalam menghadapi hidup dan menyongsong masa depan yang demikian runyam.

Kemiskinan, minimnya lapangan kerja, dan penganguran merupakan terror lain yang tidak kalah menakutkan daripada ancaman bom. Bagi masyarakat kecil, kesulitan dalam mencari penghidupan merupakan ancaman yang jauh lebih mengerikan karena akan berimplikasi pada ketiadaan harapan hidup bagi diri dan keluarganya. Dengan kondisi seperti ini, akan mudah bagi mereka untuk terhasut dan terjerumus menjadi terroris. Apalagi dengan adanya standar ganda kebijakan politik negara-negara barat, khususnya Amerika, jika dihadapkan dengan masalah Islam, semakin memperkuat alasan mereka untuk menjadi terroris sungguhan.

Begitu banyaknya terror yang melingkupi kehidupan kita menyebabkan rentannya masyarakat untuk berbuat anarkis sebagai bentuk pembalasan atas terror-terror yang selama ini menghantui dan menimpa dirinya. Dan boleh jadi, sebenarnya kita sendiripun merupakan terroris bagi kehidupan orang lain. Sebagai orangtua, kita menterror anak dengan pemaksaan-pemaksaan agar si anak sesuai dengan keinginan kita, padahal anak hanyalah titipan Tuhan yang memiliki dunia dan pribadinya sendiri. Sebagai guru, kita menterror anak didik kita dengan PR-PR yang seabreg dan keharusan mendapatkan nilai yang bagus, padahal setiap siswa memiliki kemampuan berbeda dalam bidang (pelajaran) yang berbeda pula. Sebagai atasan di kantor, kita menterror bawahan dengan tugas-tugas pekerjaan yang tidak masuk akal dan kaku. Sebagai tetangga, kita menterror tetangga lain yang tidak se-strata atau sefaham dengan kita. Dan mungkin masih banyak terror-terror lain yang telah kita buat dalam hidup ini. Maka boleh jadi, terroris-terroris yang ada sekarang adalah akibat dari terror-terror kita selama ini. Karena itu, seribu terroris boleh jadi mati tapi terrorisme akan selalu hidup dan hadir di tengah-tengah kehidupan kita.

0 komentar:

Posting Komentar

cah elek

Blog Archive